MIU Login

Eufemisme Dan Prasangka Sosial Di Ruang Publik​​

Inayatur Rosyidah, dkk

Rp. 137.000

Buku ini menyajikan eksplorasi multidisipliner yang mengupas bagaimana bahasa, khususnya dalam wacana politik, digunakan sebagai alat kekuasaan. Pembahasan diawali dengan relasi erat antara bahasa dan politik, membedah bagaimana pilihan kata mampu menyamarkan makna, menghindari kritik tajam, atau justru menciptakan gesekan sosial. Berbagai bentuk eufemisme—dari metafora, litotes, hedges, hingga apologetic expressions—dikaji secara mendalam untuk memahami bagaimana politisi membingkai pesan mereka di hadapan publik. Lebih dari itu, buku ini juga menggali mekanisme prasangka sosial melalui perspektif psikologi sosial. Bagaimana prasangka terbentuk? Bagaimana bahasa memperkuat identitas kelompok dan membatasi interaksi dengan kelompok lain? Dengan mengaitkan teori identitas sosial, pembaca diajak memahami bagaimana stereotipe, antilokusi, dan bias kognitif bekerja dalam komunikasi politik dan sosial. Sebagai studi kasus, buku ini menganalisis debat politik antara Anies Baswedan dan Prabowo Subianto. Lewat kajian pragmatik dan wacana kritis, pembaca diajak menyelami bagaimana kedua politisi menggunakan eufemisme untuk membentuk citra, menavigasi kritik, dan mengamankan posisi politik mereka. Analisis ini juga menyoroti penggunaan disfemisme dalam retorika politik sebagai alat untuk mengukuhkan perbedaan dan memperkuat loyalitas kelompok